Wednesday, 20 May 2015

Apakah Sherlock Holmes Jenius? Atau....


Helo again....

Sudah tiga hari sejak postingan jenius yang lalu. Kali ini, kita kembali ke Sherlock Holmes? Apakah Sherlock Holmes jenius? Tidak diragukan lagi, Anda akan segera berteriak "tentu saja" tanpa berpikir. Itu semua pikiran saya sebelum membaca Study In Scarlet a.k.a Penelusuran Benang Merah, yaitu asal-muasal pertemuan dr. Watson dan Shelock Holmes.

Sherlock Holmes boleh jadi jenius, tapi daripada jenius, saya lebih suka menyebut dia KONSISTEN. Ya, Sherlock Holmes sangat konsisten dan fokus pada kasus kriminal dan ilmu forensik, Ia bukan orang yang main-main dan sekedar baca buku. Pengetahuannya sangat luar biasa. Tidak percaya dengan saya? Maka saya akan mengutip beberapa kalimat dari buku ini.

Holmes bukan mahasiswa kedokteran. Ini diakuinya sendiri ketika kutanya. Ia juga tidak terlihat memburu bacaan apapun yang memungkinkannya untuk mendapatkan gelar di bidang sains atau bidang lainnya. Sekalipun begitu, ada hal-hal tertentu yang dengan tekun dipelajarinya, dan dalam batasan-batasan eksentrik pengetahuannya luar biasa banyak dan pengamatannya begitu rinci sehingga aku tertegun. Jelas tidak ada orang yang mau bekerja begitu keras atau informasi setepat itu tanpa tujuan yang nyata. Orang yang membaca hanya untuk iseng pasti HANYA MEMPEROLEH PENGETAHUAN SEKEDARNYA, berbeda dengan Holmes yang mau membebani benaknya sampai ke hal-hal kecil.

Anda memahaminya? itulah Holmes. Ia adalah orang yang konsisten untuk belajar sesuatu sampai ke hal-hal kecil. Pengetahuannya apakah muncul begitu saja? Tentu saja dia membaca. Asal itu berguna untuknya, ia tidak terbebani sama sekali untuk mempelajarinya hingga mendetail. Di sekolah, kita terbiasa dengan teori yang luar biasa banyaknya. Maka dari itu kita akhirnya menjadi Orang yang membaca hanya untuk iseng pasti HANYA MEMPEROLEH PENGETAHUAN SEKEDARNYA. Apakah itu buruk? Entahlah, itu persepsi masing-masing. Hanya yang pasti menurut saya, itu tidak sepenuhnya tindakan yang benar.

Coba kita simak kutipan lain dari buku yang sama mengenai pola Sherlock Holmes dalam menerima ilmu.

Anehnya, pengetahuan Sherlock Holmes yang begitu luar biasa diimbangi dengan ketidaktahuan yang sama besar di bidang lain. Holmes sama sekali tidak tahu apa-apa tentang karya-karya sastra kontemporer, filosofi, dan politik. Saat aku mengutip pendapat Thomas Carlyle, dengan naif Holmes bertanya siapa orang itu dan kejahatan apa yang telah dilakukannya. Keherananku mencapai puncak sewaktu tanpa sengaja kuketahui bahwa Holmes tidak mengerti Teori Copernicus dan komposisi tata surya.

Wah..... disinilah Anda akhirnya tersadar. Sesungguhnya Holmes memiliki kelemahan. Dia bahkan tidak tahu teori bumi itu bulat dan komposisi tata surya dimana bumi mengelililngi matahari. Lalu apa yang akan dilakukannya setelah mengetahui semua itu dari dokter Watson? Ini kutipannya.

"Melupakannya!"
"Begini," katanya menjelaskan, "otak manusia pada awalnya sama seperti loteng kecil yang kosong, dan kau harus mengisinya dengan perabot yang sesuai dengan pilihanmu. Orang bodoh mengambil semua informasi yang ditemuinya, sehingga pengetahuan yang mungkin berguna baginya terjepit di tengah-tengah atau tercampur dengan hal-hal lain. Orang bijak sebaliknya. Dengan hati-hati ia memilih apa yang dimasukkannya ke dalam loteng-otaknya. Ia tidak akan memasukkan apa pun kecuali peralatan yang akan membantunya dalam melakukan pekerjaannya, sebab peralatan ini saja sudah sangat banyak. Semuanya itu diatur rapi dalam loteng-otaknya sehingga ketika diperlukan, ia dapat dengan mudah menemukannya. Keliru kalau kaupikir lotengotak kita memiliki dinding-dinding yang bisa membesar. Untuk setiap pengetahuan yang kaumasukan, ada sesuatu yang sudah kauketahui yang terpaksa kaulupakan. Oleh karena itu penting sekali untuk tidak membiarkan fakta yang tidak berguna menyingkirkan fakta yang berguna."
"Tapi Tata Surya!" kataku memprotes.
"Apa gunanya bagiku?" tukas Holmes tak sabar. "Kalaupun bumi bergerak mengitari bulan, itu tidak akan mempengaruhi pekerjaanku!"
Aku hampir saja menanyakan apa pekerjaannya, tapi sesuatu dalam sikapnya menunjukkan bahwa itu bukan saat yang tepat. Aku hanya bisa mengingat-ingat percakapan singkat kami dan berusaha keras menarik kesimpulan dari percakapan tersebut.
Holmes mengatakan bahwa ia tak mau me-nyimpan pengetahuan yang tidak berhubungan dengan pekerjaannya. Oleh karena itu, semua pengetahuan yang dimilikinya sekarang pastilah berguna baginya. Aku mencoba membuat daftar hal-hal yang diketahui Holmes, dan tak bisa menahan senyum ketika melihat hasilnya. Dalam catatanku tertulis: 

Sherlock Holmes—kelebihan dan kekurangannya
1. Pengetahuan tentang Sastra—Nol.
2. Pengetahuan tentang Filsafat—Nol.
3. Pengetahuan tentangAstronomi—Nol.
4. Pengetahuan tentangPolitik—Rendah.

5. Pengetahuan tentang Botani—Bervariasi. Sangat memahami belladonna, opium, dan racunracun
secara umum. Tidak tahu apa-apa tentang praktek berkebun.
6. Pengetahuan tentang Geologi—Praktis tapi terbatas. Mampu membedakan tanah dengan
sekali pandang. Sesudah berjalan-jalan dia pernah menunjukkan noda-noda cipratan tanah
pada celana panjangnya. Dari warna dan konsistensinya, dia tahu dari daerah mana tanah itu
berasal.
7. Pengetahuan tentang Kimia—Menonjol.
8. Anatomi—Akurat tapi kurang sistematis.
9. Pengetahuan tentang Berita-berita Menghebohkan—Sangat banyak. Dia tampaknya tahu
secara rinci semua tindak kejahatan yang terjadi pada abad ini.
10. Bermain biola dengan baik.
11. Sangat pandai dalam bela diri satu tongkat, tinju, dan pedang.
12. Memiliki pengetahuan praktis tentang Hukum Inggris.


Jadi apa kesimpulan Anda mengenai Sherlock Holmes? Apa dia jenius? Atau dia konsisten? Hanya mengakses informasi yang penting. Itulah pola Sherlock Holmes dalam berpikir. Karena perlu diingat bahwa tidak semua memori yang Anda perlukan dapat Anda panggil kembali. Kebanyakan memori, terutama memori pelajaran tersimpan di short term memory atau memori jangka pendek. Sehingga Anda perlu mengulang dan membacanya lagi. Dan tentu saja lupa lagi dan lagi.

Salah satu dosen saya pernah berkata, Albert Einstein hanya menggunakan 0,5 % dari otaknya. Sang dosen juga berkata pada saya, bahwa otak manusia itu memiliki tampungan melebihi perpustakaan yang terbesar di dunia. Dalam hati saya berkata, kalau begitu kenapa Albert Einstein yang disebut jenius hanya menggunakan 0,5% dari otaknya? Dia toh orang yang jenius dalam bidang Sains. Dosen saya tidak berhenti mengoceh, jadi saya diamkan saja.

Saya mencoba teori dosen saya, dan yang terjadi adalah di bidang yang saya sukai, banyak memori yang saya tidak dapat panggil kembali. Karena banyaknya memori lain yang kurang penting. Saya juga mengerti mungkin pengaruh umur, tapi daya ingat memang tidak sekuat dulu. Jadi saya mengerti mengapa orang harusnya terfokus di satu bidang yang ditekuninya. Termasuk juga orang-orang jenius. Lebih lagi saya yang hanya orang biasa. Paling baik lagi kalau jurusan sejak kecil harusnya diberi arahan, agar nantinya tidak menimbulkan kebingungan. Sesuatu yang linier itu lebih baik agar lebih mendalami suatu bidang sehingga ilmu yang kita pelajari bisa lebih mendalam.

Semoga bermanfaat......!

No comments:

Post a Comment