Saturday, 23 May 2015

Melepas Kenangan: Kisah Hidup Seorang Pengacara Perceraian (Bag.I)



Melepas Kenangan (My Wish Before The Wedding)


Hari pernikahanku semakin dekat. Pertunangan sudah dilaksanakan sekitar setengah tahun lalu. Sedangkan lamaran baru saja dilaksanakan seminggu yang lalu. Begitu pun persiapan untuk upacara pernikahan sudah 90%. Tinggal menunggu hari H, yang Insya Allah akan dilaksanakan dua minggu lagi.
Tidak seperti pasangan kebanyakan, aku dan Mas Hendra tidak banyak bertengkar. Mas Hendra orangnya sangat penyayang dan selalu mengalah. Jujur saja aku sangat bangga dipersunting oleh lelaki sebaik dia. Namun entah mengapa belakangan ini aku merasa gelisah, pekerjaan di kantor mulai terabaikan. Apa masalahku sebenarnya aku juga tidak mengerti. Kata rekan-rekanku, mungkin hanya kegelisahan sebelum menikah. Aku sendiri juga masih bertanya-tanya mengapa.
Oh, iya aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Arina. Singkat, padat dan jelas. Aku seorang pengacara. Bekerja di firma hukum yang cukup terkenal di Jakarta. Usiaku 25 tahun. Di usiaku ini, aku sudah mapan. Tunanganku, Mas Hendra juga bekerja di bidang hukum. Kami tidak sengaja bertemu di pengadilan waktu aku masih magang. Bukan sebagai partner, melainkan sebagai rival karena calon suamiku ini adalah seorang jaksa.
“Aku ada kasus siang ini Mas! Jadi aku tidak bisa lama-lama makan. Takut klien nanti sudah menunggu,” ujarku suatu saat ketika aku dan Mas Hendra sedang makan siang di sebuah restoran.
“Sebenarnya aku mengajak kamu makan siang ada tujuannya. Aku lihat belakangan ini kamu tidak akur sama Ibu (Mas Hendra menyebut ibuku seperti itu). Jangan egoislah Rin! Kan kasihan Ibu,” Mas Hendra menasihatiku. Aku tertunduk. Ibu. Beliaulah kini yang menjadi masalahku. Bungkamnya ibuku adalah puncak paling tinggi dalam permasalahan ini. Apapun yang aku lakukan untuk mengorek rahasia itu, tetap saja ibu berkelit.
Akhirnya aku menyerah. Sejak umur sepuluh tahun, aku menanyakan pertanyaan yang sama. Ada alasan lain juga dibalik itu. aku tidak bisa mengingat apapun yang terjadi sebelum umurku 10 tahun. Aku sendiri juga tidak tahu kenapa.
Sudah 15 tahun ibu menyimpan rahasia ini, tanpa peduli perasaanku yang sudah sangat penasaran. Setidaknya sebelum aku menikah, aku ingin ibu memberi tahukan kebenarannya. Meskipun pahit, aku pasti akan menerimanya. Aku bukan anak umur sepuluh tahun lagi. Aku sudah dewasa sekarang.
Pertanyaanku mudah saja. Aku ingin tahu siapa ayahku sebenarnya. Berasal darimana beliau, apa pekerjaannya, atau apalah tentang beliau. Ibuku tidak pernah memberitahu apa pun tentang ayahku. Aku ingin bertanya pada orang lain, tapi aku tidak memiliki Kakek dan Nenek baik dari pihak ayah maupun ibu. Ketika aku bertanya pada ibu perihal saudaraku yang lain. Ibuku hanya menjawab.
“Mereka sudah meninggal Rin. Doakan saja mereka semua tenang di sisi Yang Maha Kuasa! Kalau kamu bertanya terus, arwah mereka tidak akan tenang,” seperti itulah jawaban ibuku. Aku merasa jawaban itu seperti bunyi kaset yang sudah diulang-ulang.
“Mengkhayal lagi kamu Rin?” Pertanyaan Mas Hendra membuatku terkejut. Mas Hendra tersenyum.
Come on Mas, kamu tahu sendiri masalahnya!” Aku menjadi sedikit sensitif. Mas Hendra sibuk mencubit pipiku.
“Jangan begitulah sama Ibu, Rin! Kan kasihan Ibu!” Mas Hendra mengulang kata-kata itu lagi dan membela ibuku. Aku hanya bisa menghela napas.
“Udahlah Mas, aku malas membahas itu!” ujarku. Aku sedikit kesal karena Mas Hendra masih juga tidak mengerti aku.
“Coba nanti ke rumah Ibu! Ibu pasti luluh kali ini, lagian mau sampai kapan sih Ibu menyembunyikan semua ini?” Mas Hendra bersuara. “Aku pengen lihat kamu sama Ibu tidak meributkan masalah ayahmu lagi. Pernah tidak sih kamu berpikir kalau mungkin ibumu punya kenangan buruk. Mungkin ada sesuatu apa begitu,” panjang lebar Mas Hendra menceramahiku. Mas Hendra memang sempurna
Semuanya sempurna dari Mas Hendra. Aku sendiri mengakuinya. Hanya saja satu hal yang paling aku benci dari Mas Hendra adalah tekanannya yang terkadang membuat aku sedikit dongkol. Mas Hendra terlahir yatim piatu. Meskipun aku tahu hal itu dia lakukan karena ia menyayangiku.
Aku telah sampai di pengadilan agama. Ya, sejak hari aku lepas magang, aku telah menjadi pengacara khusus bidang perceraian. Telah berbagai macam kasus yang aku tangani. Bagi sebagian orang agak absurd memang, seorang wanita yang belum menikah jadi pengacara spesialis perceraian. Aku akui juga hal ini terkadang membuat aku sedikit takut untuk menikah. Tapi daripada berhubungan dengan para kriminal yang tidak jelas dan mayoritas adalah pembohong, lebih baik seperti ini. Resikonya lebih kecil.
“Saya membawa buktinya Yang Mulia, izinkan saya mendekat,” ujarku sambil mendekati meja hakim. Yang ingin aku tunjukan adalah second opinion mengenai keadaan psikologis dari mantan istri klienku. Pada sidang minggu lalu memang sang mantan istri sudah membawa medical record dari dokter pribadinya kalau dia sudah boleh mengasuh anak.
Hakim membaca bukti yang aku ajukan dengan seksama. Kulihat ekspresi sang mantan istri sudah menunjukkan kekhawatiran. Aku tersenyum sinis, tanda kemenangan sudah di tangan. Kutengok klienku, Pak Didi Supriatna sambil menganggukkan kepala. Itu sebuah tanda bahwa kita telah menang. Kedua anak mereka yang berumur 9 dan 15 tahun hanya bisa saling pandang. Aku juga tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh keduanya.
Palu telah diketuk. Pak Didi memenangkan hak asuh. Mantan istrinya, ibu Anita menangis tersedu-sedu. Anak perempuannya yang berumur 15 tahun, datang dan memeluk ibunya. Aku merapikan berkas-berkas dihadapanku. Pak Didi langsung mendekati dan berbisik ditelingaku.
“Terima kasih ya! Anak-anak bisa sama saya semua. Saya bersyukur! Oh iya, masalah honor, saya akan beri tip......,”
“Maaf Pak, saya tidak menerima tip. Silakan saja langsung bayar ke firma!” ujarku menolak tawaran Pak Didi.
“Oh iya.... Anak-anak akan saya bawa ke Singapura. Saya berterima kasih sekali loh Bu Pengacara!” Pak Didi tersenyum nakal. Aku terkejut mendengar penuturan klienku itu. Bukankah tadinya beliau berjanji untuk menetap di Indonesia, agar mantan istrinya bisa melihat anak-anaknya biarpun hanya pada akhir pekan.
Aku segera pergi dari ruang sidang, aku benar-benar merasa ditipu oleh Pak Didi. Di jalan, anak lelaki Pak Didi dan Ibu Anita yang berumur 9 tahun mencegatku.
“Ibu pengacara,” katanya dengan polos. “Jadi Feri harus ikut Papa?” tanyanya padaku. Aku membungkukkan badan dan menganggukkan kepala. Anak itu matanya sudah berkaca-kaca, membuatku kasihan juga.
Betapa terkejutnya aku, ketika seseorang menarik rambutku dari belakang. Aku tidak sempat menengok kuncir ekor kudaku sudah awut-awutan tak karuan. Rasanya sakit sekali.
“Kamu........... perempuan gila! Kamu......!” ternyata Ibu Anita mengamuk sambil menarik kuncir kudaku. Begitu kuat tarikannya, sehingga aku hampir kehilangan keseimbangan dan high heels milikku langsung miring. Kepalaku sakit sekali. Aku merasa hak sepatuku yang seukuran jari kelingking patah.
“Ibu, tolong sabar dulu Bu!” ujarku. Namun Ibu Anita tidak peduli. Diseretnya aku sampai keluar pengadilan. Aku mendengar banyak suara-suara, termasuk suara Pak Didi berusaha menghentikan aksi mantan istrinya. Sang mantan istri tetap saja tidak peduli. Akibatnya kali ini aku benar-benar kehilangan keseimbangan dan jatuh bebas ke lantai. Perasaanku tidak usah ditanya, benar-benar campur aduk. Berikutnya aku merasa Ibu Anita telah melepaskan rambutku, kembali adu argumen dengan dengan mantan suaminya. Aku segera sadar, berusaha berdiri. Beberapa orang ingin membantuku, kutepis saja. Aku berusaha bangun sendiri. Antara rasa malu dan sakit, aku tak tahu lagi. Aku berusaha berjalan, sadar bahwa lututku lecet dan berdarah.
“Ibu pengacara, Anda berdarah,” ujar Pak Hakim Ketua yang kebetulan lewat disitu.
“Iya Pak, saya tahu lutut saya berdarah. Tidak apa-apa Pak!” ujarku lagi.
“Hidung Anda juga Bu Pengacara........,” Pak Hakim menunjuk hidungku. Saat itu aku meraba hidungku, darah segar mengucur dengan derasnya. Sepersekian detik, aku benar-benar merasa lelucon. Kepalaku semakin berkunang-kunang, semuanya pun jadi gelap. Apa yang terjadi? Aku pingsan.
Ketika aku bangun, aku sangat terkejut. Ternyata aku berada di rumah sakit. Mas Hendra langsung dapat kulihat saat aku membuka mata. Aku benar-benar malu.
“Kamu sudah sadar Rin?” tanya Mas Hendra sambil menggenggam tanganku.
“Hmmm.....,” aku berusaha bersandar ke dinding untuk duduk. Mas Hendra mengambilkan bantal, mengatur posisi yang nyaman untukku. Aku menurut dengan ekspresi malu.
“Hahahahaha........,” suara Mas Hendra ketawa. Aku kesal.
“Mas....... Please deh! nggak tahu apa aku sudah luka-luka begini masih diketawain,” suaraku merajuk.
“Sorry, sorry..... soalnya lucu banget sih!” kata Mas Hendra sambil menahan ketawa. “Ya ampun, kamu ini ada-ada saja loh Rin! Bisa-bisa, kalau videonya diupload ke youtube kayaknya bakal lucu banget!” lanjut Mas Hendra.
“Itu tante-tante memang gila! Kalau mau ngamuk sama suaminya dong! Jangan sama aku!” kataku pelan. Tenagaku habis seketika.
“Cup.....cup......,” ujar Mas Hendra. “Sini Mas peluk!” perintahnya sambil membuka kedua tangannya lebar. Aku menyambut pelukan Mas Hendra hangat.
“Hmmmmm....... hmmmmm.........,” suara berdeham di belakangku tidak asing. Mas Hendra langsung melepas pelukannya.
“Ibu......!” ujar Mas Hendra. Aku segera berpaling ke arah ibuku.
“Kalian itu mau menikah loh, masa peluk-pelukan siang bolong lagi! Pamali!” suara khas ibu menasihati. Mas Hendra hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang jelas tidak gatal.
“Ibu sudah disini, aku permisi dulu! Silahkan mengobrol dengan Rina, Bu!” ujar Mas Hendra sambil mengedipkan matanya kepadaku. Ia segera pergi meninggalkan aku dan ibu. Maka yang terjadi antara kami berdua adalah kebisuan dan situasi yang canggung.
“Ibu tidak akan banyak omong, kamu tahu sendiri apa yang ibu mau!” kata ibuku prihatin dengan keadaanku. “Tolong sudahlah Nak, tidak usah kerja yang seperti itu!” kata-kata Ibu terdengar pelan di telingaku. Aku membalikkan badanku pelan. Benar-benar capek dengan tekanan ibuku.
“Aku capek Bu, aku mau istirahat!” ujarku kesal. Bisa kudengar desahan napas ibu. Aku tahu beliau kesal padaku.
“Ya sudah, Ibu tinggal dulu. Ibu sudah bawa makanan ini. Nanti biar Hendra yang urus,” suara langkah kaki ibu terdengar menjauh meninggalkan ruangan.
Kebiasaan inilah yang paling aku benci dari ibu. Paling pandai membuat orang lain menjadi jahat. Setiap perdebatan yang terjadi, beliau selalu mengalah. Ibu tidak bisa dimintai saran, tidak bisa diajak diskusi. Aku selalu iri dengan Sandra, Citra, Andine, teman-teman kuliahku dulu. Orang tua mereka sangat pandai, selalu dapat mendukung dan memberi saran ketika mereka membutuhkannya. Sedangkan Ibu, hanya lulusan SMA.
Bukannya aku tidak tahu perjuangan Ibu untuk menyekolahkan aku. Betapa perih dan sakitnya membesarkan aku tanpa seorang suami. Apalagi hidup di kota besar seperti ini. Kenapa sih ibu tidak bisa marah? Jujur, aku selalu merasa benci dengan sikap ibu yang tidak pernah mengungkapkan perasaan marahnya padaku.
Getaran handphone diatas meja membuyarkan khayalanku. Aku melihat ke layar handphone, ternyata ada SMS dari Mas Hendra.
Maaf Rin, aku ada kasus siang ini, penting banget. Sorry ya!
Itulah isi SMS dari Mas Hendra. Aku menghela napas, belakangan ini Mas Hendra memang sangat sibuk dan suka ingkar janji. Bukan hal yang aneh sebenarnya, namanya juga kan jaksa, kadang kasus datang tanpa peringatan.
Kalau dipikir-pikir, aku akan sangat sibuk, begitu pun Mas Hendra. Aku membayangkan, bagaimana jadinya nanti kalau kami menikah? Soulmate? Itu hanya gelora percintaan ketika kami masih muda. Sekarang yang kami cari bukan orang yang dicintai, tapi orang yang bisa dengan sangat nyaman, tempat bersandar seumur hidup.
Lagi-lagi aku sendiri. Coba aku memiliki ayah, aku mungkin bisa bertanya pada beliau, meminta saran. Aku bisa bertanya apakah Mas Hendra adalah lelaki yang tepat buatku. Apakah Mas Hendra sanggup membuatku bahagia. Dan masih banyak lagi. 
Besok hari Sabtu. Jadi malam ini aku berencana akan pulang ke rumah ibu dan menginap disana. Aku akan meminta untuk menceritakan semuanya sekali lagi. Saat itu, aku berjanji jika ibu tidak juga memberitahuku, maka aku akan mencari tahu sendiri. For the God sake, i have gone crazy! Setidaknya ayahku bisa menikahkan aku. Aku akan terima kenyataan apapun yang terjadi.
Badanku benar-benar pegal. Aku ingin istirahat. Ada untungnya juga Mas Hendra pergi, sekarang aku jadi bisa istirahat dengan tenang. Besok pagi aku sudah boleh keluar dari rumah sakit. Jadi aku akan meluruskan jalanku ke rumah ibu.

BERSAMBUNG........

No comments:

Post a Comment