Wednesday, 6 May 2015

Sherlock Holmes, Sudut Pandang Observer


Hello readers....

Kemarin lagi malas dan sibuk sehingga nggak sempat posting apapun di blog. Kali ini dengan mood yang lumayan, tekad saya sudah bulat, pengen lagi posting sesuatu yang berhubungan dengan minat saya, yaitu cerita misteri dan crime. Maka saya putuskan untuk memilih Sherlock Holmes sebagai objek.

Siapa yang tidak tahu Sherlock Holmes? Tokoh fiksi karangan Sir Arthur Ignatius Conan Doyle sangat populer bahkan hingga sekarang. Kecerdasan, ketelitian, ulet dan eksentrik yang dimiliki oleh karakter ini telah menginspirasi Aoyama Gosho untuk membuat Detektif Conan. Bahkan bisa dilihat beberapa kasus ada yang diadopsi dari SherlockHolmes. Seperti kasus anjing bercahaya dan masih banyak lagi.

Tidak ada salahnya mengadopsi. Lihat saja cerita dongeng, dulu waktu saya masih kecil ada dua dongeng yang saya bingung membedakannya yaitu Sleeping Beauty dan Snow White. Kenapa saya bingung? Karena ceritanya sama-sama tertidur.

Yah.... tak ingin membahas dongeng. Saya disini konsisten ingin membahas Sherlock Holmes. Selain kasus, ada satu hal yang saya perhatikan ketika membaca cerita ini, yah, itu dia. Sudut pandang yang tidak biasa. Seperti yang telah kita ketahui, Conan Doyle memilih menempatkan dirinya sebagai rekan Sherlock, yaitu dr. Watson. Memang pada kenyataannya Conan Doyle ada dalam posisi itu. Sedangkan posisi Sherlock Holmes di dunia nyata adalah Profesor Joseph Bell. Beliau adalah salah satu profesor yang mengajar di Fakultas Kedokteran tempat Conan Doyle belajar. Beliau adalah sumber inspirasi bagi Conan Doyle, tokoh utama cerita Sherlock Holmes. Karakter Profesornya yang teliti dan sangat tidak biasa pada zaman itu. Tidak hanya dapat mengautopsi mayat, dengan kecerdikannya, Profesornya mampu mengungkapkan fakta-fakta menarik mengenai mayat yang tidak dapat dianalisis oleh dokter biasa.

Tanpa menghilangkan jejak Sang Profesor, Conan Doyle memilih menjadi 'observer' dalam cerita. Ia memilih sebagai dokter Watson dibanding Sherlock Holmes itu sendiri dalam ceritanya. Membuktikan kekaguman dan penghargaannya terhadap Sang Profesor. Seperti yang Anda baca, bagaimana kekaguman Dokter Watson pada Sherlock Holmes, serta kadang melibatkan perasaan personal Sang Dokter. Kadang ia bingung dan tidak mengerti dengan tindakan Sherlock Holmes yang cenderung 'aneh'. Ketika kasus selesai, ia mungkin akan berpikir dan tersenyum bodoh sendiri sambil membatin 'Oh, begitu ternyata maksud Sherlock'.

Yang bisa saya katakan bahwa Sir Arthur Conan Doyle sangat cerdas dalam memilih sudut pandang, tanpa mengurangi esensi dari kasus misteri yang akan dipecahkan. Sudut pandang yang menarik, bukan begitu?

Semoga bermanfaat.

No comments:

Post a Comment